Asep Kumala, Pedagang Cilok yang Menempuh Perjalanan Kaki dari Bandung ke Ciamis

Di tengah keramaian pemudik yang memenuhi Nagreg, Kabupaten Bandung pada malam 17 Maret, langkah Asep Kumala Seta (31) terus melangkah tanpa henti.

Saat banyak orang memilih berbagai jenis transportasi untuk kembali ke kampung halaman, Asep justru mengambil langkah yang berbeda dengan berjalan kaki menuju Sindangkasih, Kabupaten Ciamis.

Perjalanan yang penuh keteguhan ini dimulai oleh Asep sejak pukul 12.00 WIB siang. Ia berangkat dari kawasan Cibaduyut, Kota Bandung. Dengan tas sederhana menggantung di punggungnya, Asep melanjutkan langkahnya dengan sabar. Meskipun jalur yang dilalui sama dengan rute yang diambil oleh ribuan kendaraan, ia memilih untuk menempuhnya dengan kecepatan langkah kakinya sendiri.

Di siang itu, terik matahari terasa menyengat kulitnya, namun seiring dengan bergantinya waktu, hembusan angin malam yang dingin mulai menemani langkahnya. Meski demikian, semangat Asep untuk mencapai tujuannya tidak pernah surut.

Dalam tasnya tidak ada tiket bus yang tersimpan, dan ia pun tidak memiliki kendaraan pribadi untuk membawanya pulang. Yang dibawa hanyalah pakaian secukupnya, sisa dagangan cilok yang belum terjual, serta perlengkapan sederhana sebagai bekal untuk bertahan hidup selama perjalanan panjang ini.

Bagi Asep, setiap langkah yang ia ambil adalah bukti nyata bahwa keterbatasan materi tidak menghalanginya untuk pulang dan bertemu dengan keluarganya.

“Saya berjalan dari Cibaduyut, rencananya ingin sampai ke Ciamis,” ungkap Asep penuh percaya diri.

Selama dua tahun terakhir, Asep merantau di Bandung, di mana ia berjualan cilok di kawasan Cibaduyut di bawah usaha bernama “Cilok Jaya”. Selama waktu itu, ia tinggal di sebuah kontrakan yang disediakan oleh pemilik usaha.

Kehidupan yang dijalani Asep tidak selalu berjalan mulus. Setiap hari, ia harus menyetor Rp70.000 kepada bosnya. Dari hasil jerih payahnya seharian, sisa uang yang bisa ia bawa pulang sebagai keuntungan seringkali tidak lebih dari Rp50.000.

Tekanan ekonomi semakin terasa berat dalam beberapa waktu terakhir, terutama dengan menurunnya jumlah penjualan. Kondisi ini membuatnya harus mengambil keputusan sulit untuk mengurungkan niat menggunakan angkutan umum dan memilih untuk berjalan kaki dalam perjalanan mudik tahun ini.

“Sekarang mah jarang habis. Paling cuma dapat Rp100 ribu, disetor Rp70 ribu,” jelasnya dengan nada penuh keprihatinan.

➡️ Baca Juga: Beasiswa S1 Pendidikan Seni 2025: Kembangkan Bakat Anda

➡️ Baca Juga: DualSense Haptic Feedback Gak Bikin Ketagihan? Mungkin Kamu Gak Tahu Trik Ini

Exit mobile version