Wakil Ketua MPR RI, Edhie Baskoro Yudhoyono, yang akrab disapa Ibas, berpendapat bahwa generasi muda harus berfungsi sebagai pemersatu bangsa serta menjadi pendorong perubahan sosial yang penuh kreativitas dan inovasi.
Pernyataan ini disampaikan Ibas dalam sebuah audiensi bersama organisasi kepemudaan yang berlandaskan nilai-nilai Nasionalis dan Islam, yang merupakan bagian dari rangkaian kegiatan Reses Ramadan Religi dengan tema Menguatkan Negeri.
“Kita mungkin memiliki perbedaan dalam hal organisasi, warna, dan cara pandang. Namun, visi kita tetap serupa, yaitu untuk mewujudkan Indonesia yang lebih maju, aman, adil, demokratis, dan sejahtera,” tutur Ibas dalam keterangannya pada hari Senin, 2 Maret 2026.
Ia menekankan bahwa bonus demografi yang dimiliki Indonesia adalah sebuah peluang besar yang hanya dapat dimanfaatkan dengan baik jika generasi muda memiliki karakter yang kuat, pemahaman literasi yang memadai, dan semangat untuk berkolaborasi lintas organisasi.
“Menjadi muda adalah sebuah anugerah, namun juga menjadi tanggung jawab besar. Kita harus memastikan bahwa bonus demografi ini tidak menjadi beban, terutama jika generasi muda tidak siap dan kehilangan arah,” ungkapnya.
Ibas juga mengingatkan tentang pentingnya penggunaan teknologi yang bijaksana, terutama di era digital yang berkembang pesat. Menurutnya, teknologi seharusnya menjadi alat untuk meningkatkan kapasitas diri, bukan sebagai sarana untuk menyebarkan informasi negatif atau menimbulkan konflik sosial.
“Manfaatkan teknologi untuk belajar, mencari informasi yang akurat, dan menciptakan gagasan yang positif. Kecerdasan dalam teknologi harus diimbangi dengan moral dan etika. Negara ini tidak akan ambruk karena ancaman besar, melainkan karena generasi mudanya kehilangan tujuan. Karakter adalah fondasi bangsa,” tegasnya.
Lebih lanjut, ia mengusulkan empat langkah strategis bagi pemuda, yaitu memperkuat literasi digital, politik, dan kebangsaan; membangun kolaborasi antara berbagai organisasi; fokus pada aksi nyata daripada sekadar diskusi; serta menjaga dialog yang konstruktif dan menolak segala bentuk provokasi.
Dalam kesempatan tersebut, Ibas juga menawarkan beberapa program kerja sama, antara lain, gerakan Pemuda Kawal Konstitusi yang meliputi sosialisasi mengenai Empat Pilar MPR RI dan diskusi di kampus, serta kegiatan sosial seperti Ramadhan Berbagi dan aksi sosial antar organisasi kepemudaan.
Selain itu, ia menjelaskan pentingnya forum rutin bagi pemuda untuk mengawal kebijakan publik, memberikan rekomendasi tertulis kepada DPR dan MPR, serta mendukung inkubasi ekonomi kreatif bagi kader demi mendorong kemandirian ekonomi generasi muda.
“Pancasila bukanlah sekadar slogan, melainkan harus diterapkan dalam tindakan. Mempertahankan NKRI adalah komitmen, bukan hanya seruan,” pungkasnya.
➡️ Baca Juga: Lihat Menu Spesial Minggu Ini di Restoran Miami
➡️ Baca Juga: Menyikapi Perubahan: Kunci untuk Bertahan di Era Digital
