Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menegaskan bahwa blokade ekonomi dan maritim yang diterapkan oleh Amerika Serikat (AS) terhadap Iran dapat memberikan kerugian yang jauh lebih besar bagi AS dibandingkan dampak yang dirasakan oleh Teheran.
“Apabila AS berusaha untuk menciptakan kerugian ekonomi sebesar satu dolar AS untuk Iran, mereka mungkin harus bersiap untuk menanggung kerugian yang berlipat ganda,” ungkap Juru Bicara IRGC, Brigadir Jenderal Hossein Mohibi, dalam pernyataannya yang dirilis oleh Anadolu Ajansi.
Mohibi menekankan bahwa Iran tidak akan menyerah di bawah tekanan sanksi. Ia juga mengklaim bahwa pendahulu Presiden AS saat ini, Donald Trump, sebelumnya percaya bahwa Washington bisa memaksa Iran untuk mundur melalui kekuatan militer, termasuk armada laut dan kapal induk.
Namun, menurut pandangannya, kondisi terkini menunjukkan bahwa asumsi tersebut keliru. Ia berargumen bahwa AS, yang kini terjebak dalam utang yang besar dan persaingan ekonomi dengan negara-negara seperti China, akan menghadapi tantangan berat dalam apa yang ia sebut sebagai perang ekonomi melawan Iran.
Mohibi juga menyatakan bahwa dinamika yang terjadi di kawasan telah mempersempit cadangan strategis AS, serta memengaruhi akses mereka terhadap beberapa bahan baku. Hal ini, menurutnya, juga disebabkan oleh gangguan yang terjadi pada produksi dan ekspor aluminium di wilayah tersebut.
Ia menekankan bahwa situasi ini menunjukkan bahwa penerapan sanksi ekonomi dan blokade tidak selalu menjamin keberhasilan, dan justru dapat menimbulkan dampak yang lebih berat bagi negara yang melakukannya.
Konflik yang sedang berlangsung ini dimulai ketika AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada akhir Februari 2026. Serangan tersebut kemudian direspon oleh Iran dengan melakukan serangan terhadap target-target AS dan Israel, yang berujung pada meningkatnya ketegangan, terutama di jalur maritim Selat Hormuz.
Sementara itu, Washington tidak hanya meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Teheran, tetapi juga meluncurkan operasi militer. Mereka memberlakukan sanksi yang menyasar sektor-sektor penting seperti minyak, pelayaran, penerbangan, teknologi, dan keuangan Iran. Pejabat Iran menyebut langkah-langkah ini sebagai bentuk perang ekonomi dan blokade yang merugikan.
➡️ Baca Juga: Penerapan Sistem MLFF Dalam Uji Kelayakan: Nasibnya Masih Menggantung di Tangan Pemerintah
➡️ Baca Juga: Dua Petenis Indonesia Berhasil Lolos ke Kualifikasi Kejuaraan Tenis Dunia Pria 2026
