Pasukan Pertahanan Israel (IDF) sedang dalam posisi siaga untuk melanjutkan operasi militer melawan Iran setelah perundingan yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran dilaporkan tidak berhasil. Informasi ini muncul dari laporan yang dibagikan oleh The Times of Israel, yang memuat bocoran dari pejabat pertahanan Israel yang disampaikan kepada tiga saluran televisi utama.
Sumber dari Channel 12 melaporkan bahwa IDF tidak hanya bersiap untuk menghadapi potensi konflik baru dengan Iran, tetapi juga mempersiapkan diri untuk kemungkinan serangan mendadak yang bisa dilancarkan oleh Iran terhadap Israel.
Menurut penyiaran publik Kan, seorang pejabat pertahanan senior menyatakan bahwa Israel sangat ingin melanjutkan perang melawan Iran. Ia berargumen bahwa konflik sebelumnya berakhir terlalu cepat dan tidak memberikan tekanan yang cukup kepada Iran terkait program nuklir dan pengembangan rudal balistiknya.
Laporan tersebut juga menyebutkan bahwa jika Presiden AS Donald Trump memutuskan untuk menghidupkan kembali konflik, militer Israel akan berusaha untuk menekan Iran agar menghentikan program nuklirnya dengan menyerang infrastruktur energi yang ada.
Channel 13 melaporkan bahwa Kepala Staf IDF, Letnan Jenderal Eyal Zamir, telah memberikan instruksi kepada militer untuk bersiap menghadapi kemungkinan “pertempuran yang segera berlangsung.”
Iran dan Amerika Serikat terlibat dalam beberapa putaran pembicaraan di Islamabad pada tanggal 11 April, di mana delegasi Iran dipimpin oleh Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf, sementara delegasi AS dipimpin oleh Wakil Presiden JD Vance.
Kedua negara, Teheran dan Washington, menyatakan bahwa negosiasi tidak mencapai kesepakatan yang diharapkan untuk menyelesaikan konflik jangka panjang, yang disebabkan oleh berbagai perbedaan pandangan. Saat ini, belum ada rincian mengenai kemungkinan putaran pembicaraan selanjutnya.
Wakil Presiden AS JD Vance mengonfirmasi bahwa delegasi Amerika telah meninggalkan Pakistan setelah lebih dari 21 jam melakukan negosiasi tanpa hasil yang memuaskan.
Vance menjelaskan bahwa Washington telah menetapkan “garis merah” mereka, termasuk tuntutan jaminan tegas dari Iran untuk tidak mengembangkan kemampuan senjata nuklir.
Para pejabat AS mengungkapkan bahwa Teheran menolak untuk menerima syarat tersebut, dan delegasi Iran yang dipimpin oleh Ketua Parlemen Ghalibaf menyampaikan bahwa pihak Washington menunjukkan ketidakminatan untuk melanjutkan negosiasi.
Media Iran menyalahkan tuntutan Amerika yang dianggap “berlebihan” sebagai penyebab cepatnya berakhirnya pembicaraan, serta menyatakan bahwa tidak ada rencana untuk melakukan negosiasi tambahan dalam waktu dekat.
➡️ Baca Juga: Jadwal Pertandingan Resmi Timnas Indonesia U-23 di Piala AFF Mendatang
➡️ Baca Juga: Beasiswa Teknologi: Peluang Emas untuk Karir Cemerlang
