Perang Iran dan Israel-AS Berpotensi Memicu Krisis Minyak Global Terbesar dalam Sejarah

Konflik bersenjata antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran kini tidak hanya menciptakan ketegangan di arena geopolitik, tetapi juga menimbulkan kekhawatiran mendalam terhadap stabilitas pasokan energi global. Para analis memperingatkan bahwa dunia berpotensi menghadapi gangguan pasokan minyak terbesar dalam sejarah modern jika pengiriman melalui Selat Hormuz tetap rendah atau bahkan terhenti sama sekali.
Analisis dari tim S&P Global menunjukkan bahwa situasi ini berpotensi berubah menjadi krisis energi dengan skala yang belum pernah terjadi sebelumnya. Ini disampaikan oleh Jim Burkhard, kepala riset minyak mentah di S&P Global Energy, yang bekerja sama dengan timnya untuk mengevaluasi kondisi pasar minyak global saat ini.
Menurut data dari S&P Global Energy Commodities at Sea, pada 1 Maret lalu, hanya terdapat lima kapal tanker minyak yang melewati Selat Hormuz. Angka tersebut sangat jauh di bawah rata-rata normal yang biasanya mencapai sekitar 60 tanker per hari, menunjukkan adanya penurunan signifikan dalam aktivitas pengiriman.
Penurunan tajam ini menjadi indikasi awal adanya potensi gangguan besar terhadap distribusi energi di seluruh dunia. Dalam dua bulan pertama tahun ini, sekitar 20,8 juta barel per hari minyak mentah dan produk turunannya telah dikirim melalui Selat Hormuz, dan 82 persen dari jumlah tersebut ditujukan untuk pasar Asia.
Tak hanya itu, sekitar 18 persen dari pasokan global gas alam cair (LNG) juga mengalir melalui jalur strategis ini. “Kehilangan sebagian besar pasokan energi ini bisa mengakibatkan guncangan finansial dan ekonomi yang besar,” ungkap Burkhard, seperti dilansir dari Rigzone baru-baru ini.
Dalam skenario terburuk, jika semua tanker berhenti melewati Selat Hormuz, risiko dampak terhadap 15 juta barel per hari minyak mentah dan produk turunannya akan meningkat. Jumlah yang terpengaruh ini akan bergantung pada kapasitas pipa yang dimiliki Arab Saudi dan Uni Emirat Arab untuk mengalihkan pengiriman dari Selat Hormuz.
Bahkan, gangguan di kisaran menengah, yakni tujuh hingga delapan juta barel per hari, akan lebih besar dibandingkan dengan volume dampak yang terjadi saat Rusia menginvasi Ukraina atau ketika Irak menyerang Kuwait pada tahun 1990.
Sebelum konflik ini meletus, proyeksi dari S&P Global Energy menunjukkan bahwa produksi minyak global akan melebihi permintaan sebesar 1,4 juta barel per hari pada kuartal pertama 2026, dengan rata-rata surplus satu juta barel per hari sepanjang tahun. Namun, laporan tersebut menekankan bahwa penurunan lalu lintas tanker dan penargetan infrastruktur energi dapat merubah surplus ini menjadi defisit yang signifikan, sehingga memicu lonjakan harga yang akan merasionalisasi pasokan yang semakin langka dan menurunkan tingkat permintaan.
➡️ Baca Juga: Makan Daging Kurban Berlebihan Jelang Iduladha 2025, Waspadai Lemak dan Kolesterol
➡️ Baca Juga: Tren Fashion 2025: Apa yang Akan Populer Tahun Ini?
