Otoritas keamanan di Amerika Serikat, Federal Bureau of Investigation (FBI), sedang menyelidiki kasus penyebaran malware yang terjadi melalui berbagai game di platform Steam.
Kasus ini menjadi perhatian karena diduga telah berlangsung selama beberapa tahun dan menargetkan banyak pengguna yang mungkin tidak menyadari risiko yang ada.
Menurut laporan terbaru, FBI menemukan bahwa sejumlah game yang dirilis di Steam antara tahun 2024 hingga awal 2026 telah disusupi oleh perangkat lunak berbahaya. Malware ini diduga dirancang untuk mencuri data pribadi pengguna, mengambil alih akun, serta menguras aset digital mereka.
Pihak berwenang berpendapat bahwa tindakan ini mungkin dilakukan oleh satu individu atau sekelompok orang yang memanfaatkan game sebagai sarana untuk menyebarkan malware secara tersembunyi.
Malware yang ditanam dalam game ini dikenal sebagai “info-stealer”, yang memiliki kemampuan untuk mengakses data sensitif dari perangkat korban. Dalam beberapa kasus, serangan ini memanfaatkan sesi login pengguna di browser untuk mencuri informasi penting seperti akun, kata sandi, dan dompet kripto.
FBI memperkirakan bahwa periode serangan terjadi antara Mei 2024 hingga Januari 2026, dengan fokus utama pada pengguna yang mengunduh dan memainkan game tertentu tanpa menyadari adanya risiko yang mengintai.
Sebagai bagian dari investigasi, FBI kini secara aktif mencari korban yang terdampak. Masyarakat yang merasa pernah mengunduh game mencurigakan di Steam diimbau untuk melapor melalui formulir resmi “Seeking Victim Information”.
Langkah ini bertujuan untuk mengumpulkan bukti tambahan dan membantu proses penegakan hukum terhadap pelaku di balik serangan siber tersebut.
Kasus ini juga mengungkap tantangan besar dalam sistem kurasi konten di Steam. Dengan ribuan game baru dirilis setiap tahunnya, tidak semua konten dapat diperiksa secara menyeluruh sebelum tersedia untuk pengguna.
Dalam beberapa situasi, malware bahkan tidak langsung muncul saat game dirilis, melainkan disisipkan melalui pembaruan (update) setelah game melewati proses verifikasi awal.
Insiden ini menegaskan bahwa platform permainan juga rentan terhadap ancaman keamanan siber. Selain merugikan pemain, kasus semacam ini dapat merusak kepercayaan terhadap ekosistem distribusi game digital.
Para ahli keamanan mengingatkan para gamer untuk lebih berhati-hati, seperti menghindari game dari pengembang yang tidak dikenal, tidak sembarang mengunduh file tambahan, serta selalu menggunakan sistem keamanan terbaru untuk melindungi diri dari ancaman ini.
➡️ Baca Juga: Idul Adha: Harga Hewan Kurban Naik 15 Persen
➡️ Baca Juga: Pria 22 Tahun Ditangkap di Grogol karena Mengedarkan Sabu 102 Gram dalam Kotak ‘Fragile
