Menlu Iran Tegaskan Tidak Ada Pemenang dalam Perang AS-Israel yang Suram

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, baru-baru ini memberikan pandangan kritis mengenai serangan udara yang dilancarkan secara bersamaan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap wilayah Iran. Serangan ini terjadi pada akhir pekan lalu, yang mengakibatkan kematian pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei.
Sebagai respons terhadap agresi tersebut, Iran melancarkan serangan balasan ke sejumlah pangkalan militer AS yang berada di kawasan Timur Tengah. Konfrontasi yang terus berlangsung ini telah mengakibatkan sekitar 1.230 korban jiwa akibat serangan udara yang terjadi.
Dalam konteks konflik yang berkepanjangan ini, Araghchi mengungkapkan pandangan pesimistis mengenai kemungkinan akhir dari perang yang sedang berlangsung. Ia menegaskan bahwa tidak ada pihak yang bisa disebut sebagai pemenang dalam situasi ini.
“Perang ini tidak memiliki pemenang,” ungkapnya dalam wawancara dengan NBC pada hari Kamis lalu.
Araghchi menjelaskan bahwa bagi Iran, kemenangan berarti kemampuan untuk bertahan dan menolak pencapaian tujuan yang dianggap tidak sah.
“Kemenangan bagi kami adalah kemampuan untuk bertahan dan menolak tujuan-tujuan yang dianggap tidak sah, dan sejauh ini, itulah yang telah kami lakukan,” imbuhnya.
Dalam kesempatan yang sama, Araghchi juga menanggapi dengan sikap menantang mengenai kemungkinan invasi militer AS ke Iran menyusul perluasan serangan di berbagai wilayah negara tersebut.
“Tidak. Kami justru menunggu mereka. Kami yakin mampu menghadapi mereka, dan itu akan menjadi bencana besar bagi mereka,” tegasnya, seperti yang dilaporkan oleh NBC.
Lebih lanjut, dalam wawancara tersebut, Araghchi menolak kemungkinan untuk melakukan negosiasi dengan Amerika Serikat dan menekankan bahwa Iran tidak pernah mengajukan permohonan untuk gencatan senjata.
“Kami bahkan tidak meminta gencatan senjata dalam konflik sebelumnya. Justru Israel yang meminta. Mereka mengajukan permintaan gencatan senjata tanpa syarat setelah 12 hari, setelah kami berhasil bertahan dari agresi mereka,” jelas Araghchi, mengacu pada perang yang terjadi selama 12 hari pada bulan Juni lalu ketika militer Israel dan AS menyerang fasilitas nuklir Iran.
Kematian Ali Khamenei telah menciptakan kekosongan dalam kepemimpinan di Iran. Berbagai spekulasi mulai bermunculan mengenai kemungkinan Mojtaba Khamenei, putra kedua dari Ali Khamenei, yang berpeluang untuk menggantikan posisi tersebut. Jika hal ini terjadi, dapat diprediksi bahwa situasi ini akan memicu kritik di kalangan masyarakat Iran, karena pewarisan kekuasaan dari orang tua kepada anak adalah karakteristik sistem monarki yang telah ditolak dalam Revolusi Iran 1979, yang kemudian melahirkan Republik Islam Iran.
➡️ Baca Juga: Nelayan Kampanyekan Penggunaan Alat Tangkap Tanpa Merusak Karang
➡️ Baca Juga: Peran Teknologi dalam Meningkatkan Kualitas Hidup Lansia




