Selat Hormuz Terhambat, Dua Negara Ini Tangguh Berkat Energi Terbarukan

Negara-negara yang mengandalkan sumber energi terbarukan seperti angin dan matahari terbukti lebih mampu bertahan dalam menghadapi gejolak pasar energi global. Hal ini disampaikan oleh para ahli di tengah situasi konflik yang semakin memanas di kawasan Timur Tengah.
Konflik yang berkepanjangan semakin meluas setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan ke Iran pada tanggal 28 Februari 2026. Serangan ini menargetkan infrastruktur energi di wilayah tersebut, dan ancaman balasan dari Iran hampir menutup Selat Hormuz. Selat ini merupakan jalur penting yang biasa dilalui oleh 20 persen pasokan minyak dan gas dunia.
Situasi tersebut mengakibatkan kesulitan dalam pengiriman bahan bakar ke negara-negara yang membutuhkannya untuk berbagai keperluan, mulai dari pembangkit listrik hingga transportasi. Lonjakan harga bahan bakar di seluruh dunia menambah tekanan pada biaya hidup yang sudah tinggi.
“Energi adalah nadi bagi masyarakat dan sektor industri kita,” ungkap Antony Froggatt, seorang pakar energi dari NGO Transport & Environment yang berbasis di Brussels. Pernyataan ini menggarisbawahi betapa pentingnya ketergantungan kita terhadap bahan bakar fosil.
Saat ini, sekitar 80 persen energi primer di dunia masih berasal dari bahan bakar fosil, yang merupakan sumber utama emisi gas rumah kaca dan berkontribusi terhadap perubahan iklim. Ketergantungan ini menjadikan perekonomian dunia rentan terhadap guncangan geopolitik, seperti yang diungkapkan oleh Rana Adib, Sekretaris Eksekutif Jaringan Kebijakan Energi Terbarukan untuk Abad ke-21 (REN21).
Negara-negara yang memiliki proporsi energi terbarukan yang lebih tinggi dalam bauran energinya dianggap lebih mampu menghadapi guncangan seperti ini. Hal ini menunjukkan bahwa keberagaman sumber energi dapat memberikan stabilitas yang lebih besar di tengah ketidakpastian global.
Meskipun teknologi energi hijau seperti turbin angin, panel surya, dan baterai juga memiliki rantai pasok global yang mungkin terpengaruh oleh ketegangan geopolitik, energi yang dihasilkan sering kali berasal dari sumber lokal. Ini menjadikan energi terbarukan lebih tahan terhadap fluktuasi pasar global.
“Ketika teknologi ini sudah diterapkan di suatu negara, sumber bahan bakarnya berasal dari matahari, angin, atau panas bumi yang semuanya dapat diakses secara lokal,” kata Adib. Inilah alasan mengapa energi terbarukan dianggap lebih resilient terhadap guncangan internasional.
Kekhawatiran akan ketergantungan pada impor minyak dan gas setelah krisis finansial 2008 mendorong Uruguay untuk melakukan transisi serius ke energi terbarukan. Langkah ini diambil untuk meminimalisir dampak negatif dari fluktuasi harga energi global.
Dua dekade silam, negara kecil di Amerika Selatan dengan populasi sekitar 3,5 juta jiwa ini mulai merencanakan strategi besar untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil dalam sistem kelistrikan mereka dengan cara memperluas penggunaan ladang angin secara agresif.
Uruguay telah menjelma menjadi contoh konkret bagaimana keberanian untuk beralih ke sumber energi terbarukan dapat membawa dampak positif bagi ketahanan energi suatu negara. Dengan fokus pada pengembangan infrastruktur energi hijau, Uruguay berhasil menciptakan sistem yang lebih mandiri dan berkelanjutan.
Perubahan kebijakan yang berfokus pada energi terbarukan bukan hanya mengurangi emisi karbon, tetapi juga menciptakan lapangan pekerjaan baru dan mendorong pertumbuhan ekonomi lokal. Hal ini menunjukkan bahwa transisi energi tidak hanya penting untuk lingkungan, tetapi juga untuk kesejahteraan masyarakat.
Dalam menghadapi tantangan global yang semakin kompleks, negara-negara yang mengadopsi teknologi energi terbarukan lebih siap untuk beradaptasi dengan perubahan. Dengan memanfaatkan sumber daya yang ada di dalam negeri, mereka dapat mengurangi risiko yang dihadapi akibat ketergantungan pada energi fosil.
Dari contoh Uruguay, terlihat jelas bahwa langkah menuju keberlanjutan energi adalah investasi jangka panjang yang tidak hanya bermanfaat bagi lingkungan, tetapi juga bagi stabilitas ekonomi. Kebijakan energi yang visioner dapat menjadi kunci untuk menghadapi tantangan di masa depan.
Dengan situasi Selat Hormuz yang semakin tidak menentu, negara-negara yang telah berinvestasi dalam energi terbarukan dapat merasakan manfaatnya. Ketahanan energi menjadi semakin penting dalam konteks geopolitik yang berubah dengan cepat, dan energi terbarukan menawarkan solusi yang tepat untuk menghadapi tantangan tersebut.
Kondisi ini juga mendorong negara lain untuk mempertimbangkan langkah serupa dalam pengembangan energi terbarukan. Sebab, di tengah ketidakpastian, keberlanjutan menjadi pilihan yang semakin menarik bagi banyak negara.
Dengan demikian, jelas bahwa transisi ke energi terbarukan bukan hanya sekadar pilihan, tetapi suatu keharusan untuk mencapai ketahanan energi yang lebih baik di masa depan.
➡️ Baca Juga: KBRI Teheran Menjamin Keamanan 329 WNI di Iran dalam Situasi Terkini
➡️ Baca Juga: PlayStation 6 RUMOR Pakai AMD Zen 5+RDNA 4 2028 Rilis Ini Bocorannya




