Rupiah Melemah Akibat Meningkatnya Beban Utang dan Penilaian Kinerja APBN yang Buruk

Jakarta – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat diproyeksikan akan mengalami volatilitas, namun penutupan hari ini menunjukkan pelemahan.
Berdasarkan informasi dari Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia, kurs rupiah berada di level Rp 16.899 pada hari Kamis, 12 Maret 2026. Posisi ini mencerminkan penurunan sebesar 99 poin dibandingkan dengan nilai sebelumnya yang tercatat pada Rp 16.867 pada perdagangan Rabu, 11 Maret 2026.
Di sisi lain, dalam perdagangan pasar spot pada Jumat, 13 Maret 2026 hingga pukul 09.01 WIB, rupiah tercatat ditransaksikan pada angka Rp 16.912 per dolar AS. Ini menunjukkan penurunan sebesar 19 poin atau 0,11 persen dari nilai sebelumnya yang berada di Rp 16.893 per dolar AS.
Pengamat ekonomi dan pasar uang, Ibrahim Assuaibi, menyatakan bahwa pengelolaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga Februari 2026 menunjukkan performa yang positif, baik dalam hal penerimaan pajak maupun belanja negara. Penerimaan pajak tercatat tumbuh lebih dari 30 persen, sementara penyerapan belanja negara mengalami pertumbuhan sebesar 41,9 persen.
Namun, jika dilihat dari keseluruhan postur realisasi anggaran, APBN 2026 hingga Februari 2026 masih beroperasi dengan pola gali lubang tutup lubang. Hal ini terlihat dari realisasi keseimbangan primer yang menunjukkan defisit sebesar Rp 35,9 triliun.
Di sisi lain, beban bunga utang terus meningkat. Defisit dalam keseimbangan primer juga menegaskan bahwa pemerintah harus menarik utang baru untuk menutupi pokok utang yang telah ada.
Meskipun demikian, jika mengacu pada definisi tersebut, estimasi pembayaran bunga utang pada bulan lalu mencapai Rp 99,8 triliun. Angka ini diperoleh dari selisih antara defisit anggaran dengan realisasi keseimbangan primer.
Dengan kata lain, jika defisit anggaran tercatat sebesar Rp 135,7 triliun dan defisit keseimbangan primer sebesar Rp 35,9 triliun, maka selisihnya, yang merupakan pembayaran bunga utang, mencapai Rp 99,8 triliun. Jumlah ini setara dengan 16,64 persen dari total pagu pembayaran bunga utang 2026 yang mencapai Rp 599,4 triliun.
Perkiraan pembayaran bunga utang ini mengalami kenaikan sebesar 25,8 persen dibandingkan dengan bulan Februari 2025, yang diperkirakan mencapai Rp 79,3 triliun. Selain itu, pembayaran bunga utang ini juga mencerminkan 28,8 persen dari total realisasi belanja pemerintah pusat pada bulan Februari 2026 yang mencapai Rp 346,1 triliun.
Angka ini cukup signifikan jika dibandingkan dengan penyerapan anggaran untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG), yang hanya sebesar Rp 44 triliun per 9 Maret 2026, serta belanja subsidi dan kompensasi yang hanya mencapai Rp 51,5 triliun hingga Februari 2026.
➡️ Baca Juga: Keselamatan Pemudik Jadi Prioritas Utama, Satu Nyawa Sangat Berharga di Jalan Raya
➡️ Baca Juga: Man United Dikabarkan Incar Kiper Lille




