Iran Beri Ultimatum pada AS-Israel Terkait Harga Minyak Dunia, Ancaman US$200 per Barel Mengintai

Harga minyak global telah mengalami lonjakan signifikan, melampaui US$100 (£74, AU$142) per barel untuk pertama kalinya sejak tahun 2022. Hal ini terjadi akibat dampak dari konflik antara AS dan Israel dengan Iran, yang telah mengakibatkan pengurangan pasokan minyak hingga 20 juta barel per hari.
Eskalasi ketegangan di Timur Tengah pada akhir pekan lalu telah memicu kekhawatiran akan krisis pasokan yang berkepanjangan. Ini mendorong harga minyak mencapai titik tertinggi dalam empat tahun terakhir, sekaligus memicu aksi jual besar-besaran di pasar saham global.
Serangan yang menargetkan setidaknya lima lokasi energi di sekitar Teheran telah menciptakan suasana “apokaliptik” di ibu kota Iran. Dalam konteks ini, perusahaan minyak nasional Kuwait juga mengumumkan langkah pengurangan produksi sebagai tindakan pencegahan di tengah serangan balasan yang dilakukan oleh Iran.
Selat Hormuz, yang merupakan salah satu jalur perdagangan paling vital di dunia dan biasanya dilalui sekitar 20% dari total pengiriman minyak dan gas global, saat ini telah mengalami penutupan selama seminggu.
Minyak mentah Brent, yang menjadi patokan internasional, mencatat kenaikan sebesar 16,6% dan diperdagangkan pada harga US$108,10 per barel saat pasar Asia Pasifik dibuka. Ini merupakan kali pertama harga minyak mencapai ambang batas psikologis tersebut sejak invasi Rusia ke Ukraina.
Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) yang diperdagangkan di AS juga mencatat lonjakan yang signifikan dengan kenaikan 19,6%, mencapai harga US$108,72 per barel.
Menyikapi lonjakan harga minyak ini, Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa harga yang sangat tinggi ini adalah “biaya kecil untuk dibayar demi keamanan dan perdamaian dunia.” Trump mengungkapkan pendapatnya di media sosial, menyebut lonjakan harga tersebut sebagai konsekuensi “jangka pendek” dari konflik yang terjadi antara AS-Israel dan Iran.
Ia juga menambahkan bahwa harga minyak akan segera turun dengan cepat setelah ancaman nuklir Iran dapat diatasi. Pernyataan ini disampaikan Trump melalui akun media sosialnya, mengekspresikan keyakinan akan pemulihan harga minyak di masa depan.
Namun, pemerintah Iran memperingatkan bahwa serangan oleh AS dan Israel dapat berpotensi mendorong harga minyak lebih tinggi lagi. Seorang juru bicara Garda Revolusi Iran (IRGC) menegaskan, “Jika Anda bersedia menghadapi harga minyak lebih dari US$200 per barel, silakan lanjutkan permainan ini,” merujuk pada serangan yang terjadi baru-baru ini.
Indeks Nikkei 225 di Tokyo mengalami penurunan sebesar 6,3% pada perdagangan awal hari Senin, menandakan adanya gejolak pasar yang signifikan di seluruh dunia. Indeks Kospi di Korea Selatan juga merosot hingga 5,9%, sementara indeks ASX 200 di Australia jatuh sebesar 3,9% di Sydney. Data perdagangan pra-pasar menunjukkan bahwa Wall Street diperkirakan akan dibuka dengan penurunan lebih lanjut.
➡️ Baca Juga: Akta Elektronik Diterapkan, Apa Jaminan Kepastian Hukum yang Diberikan?
➡️ Baca Juga: Expansion Card Xbox 2TB Harganya 4 Jutaan Padahal Ini Alternatifnya




