Harga LPG Naik Signifikan Akibat Perang, Dampaknya Terhadap Pedagang Kaki Lima

Jakarta – Konflik yang berkepanjangan antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran mulai memberikan dampak signifikan pada sektor informal, terutama bagi pedagang makanan kaki lima. Di Filipina, lonjakan harga bahan bakar, khususnya liquefied petroleum gas (LPG), membuat mereka menghadapi tantangan yang semakin berat.
Kenaikan harga LPG ini dipicu oleh ketegangan di Timur Tengah yang mengganggu proses distribusi energi global, terutama di jalur Selat Hormuz. Bagi negara seperti Filipina yang sangat bergantung pada impor energi, dampak ini langsung dirasakan oleh para pelaku usaha kecil yang bergantung pada LPG untuk operasional mereka.
Salah satu pedagang, Eric Garcia, merasa terpaksa mencari cara kreatif untuk tetap menjalankan usahanya. Ia bahkan harus menurunkan nyala api kompor ke tingkat paling rendah agar bisa menghemat gas saat mengolah hidangan khas Filipina, pares.
Kenaikan biaya bahan bakar juga memaksanya untuk menyesuaikan harga jual produknya. “Saya hanya memperoleh 1.500 peso per hari, karena sebagian besar penghasilan habis untuk LPG,” ungkap Eric, merujuk pada laporan yang muncul baru-baru ini.
Harga LPG yang biasa digunakan oleh pedagang kaki lima mengalami lonjakan yang signifikan. Tabung gas seberat 11 kilogram yang sebelumnya dijual seharga 870 peso kini melonjak menjadi 1.600 peso. Akibatnya, pendapatan harian mereka tergerus hingga mencapai seperempat dari total yang seharusnya.
Fenomena kenaikan harga ini ternyata tidak hanya dialami oleh satu atau dua pedagang saja. Carlo Manalad, seorang supervisor di toko gas, menyatakan bahwa kondisi pasar saat ini sangat memprihatinkan. “Ini adalah harga LPG tertinggi yang pernah saya lihat sejak saya mulai bekerja di sini,” tuturnya.
Berbeda dengan distributor, pedagang kecil tidak memiliki fleksibilitas untuk menaikkan harga jual mereka secara sembarangan. Persaingan yang ketat memaksa mereka untuk menahan harga agar tidak kehilangan pelanggan.
Pedagang lain, Ronilo Titom, mengungkapkan bahwa ia mulai kehilangan pelanggan sejak konflik mulai meruncing. “Ketika kami menaikkan harga, pelanggan cenderung beralih ke warung lain yang lebih terjangkau,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa banyak pelanggan kini lebih memilih untuk membawa bekal dari rumah guna menghemat pengeluaran. “Banyak dari mereka mulai membawa makan siang dari rumah untuk mengurangi biaya,” tuturnya.
Dari sisi konsumen, tekanan ekonomi juga semakin terasa. Inflasi yang diakibatkan oleh kenaikan harga energi membuat daya beli masyarakat menurun. Pedagang kentang goreng, John Mark Abella, mengungkapkan bahwa situasi ini berdampak langsung pada jumlah pelanggan yang datang.
“Saya rasa kami mendapatkan lebih sedikit pelanggan… karena mereka mulai membatasi pengeluaran mereka akibat tingginya harga bahan bakar dan makanan,” ungkapnya.
Dengan beragam tantangan yang dihadapi oleh pedagang kaki lima, jelas bahwa dampak dari ketegangan geopolitik ini tidak hanya mempengaruhi harga LPG, tetapi juga berimbas pada pola pengeluaran dan perilaku konsumen. Para pedagang berjuang untuk bertahan di tengah kondisi yang tidak menentu, berharap situasi ini segera pulih agar usaha mereka dapat kembali normal.
➡️ Baca Juga: IHSG Sesi I Naik ke 7.455, Temukan 3 Saham dengan Keuntungan Tertinggi
➡️ Baca Juga: Workout Ringan untuk Menjaga Energi Tubuh Stabil Sepanjang Hari dengan Efektif




