Status Selat Hormuz Menjadi Tidak Jelas Akibat Laporan Bertentangan dari Iran

Status Selat Hormuz masih terombang-ambing dalam ketidakpastian setelah berbagai laporan yang saling bertentangan muncul dari media Iran mengenai izin pelayaran kapal tanker minyak. Salah satu laporan dari Press TV, yang merupakan saluran berita resmi pemerintah Iran, menyatakan bahwa selat tersebut telah sepenuhnya ditutup, memaksa semua kapal tanker untuk berbalik arah dan tidak melanjutkan pelayaran.
Sebaliknya, beberapa saat sebelum laporan tersebut dirilis, outlet berita lain yang dikelola pemerintah, Student News Network (SSN), mengklaim bahwa jalur pelayaran yang aman untuk melintas di Selat Hormuz telah ditetapkan. Dalam laporan ini, disebutkan bahwa kapal-kapal diharuskan menggunakan jalur tersebut dengan koordinasi bersama Garda Revolusi Iran (IRGC).
Menurut laporan yang dimuat di The Jerusalem Post pada 9 April 2026, jalur yang dianggap aman untuk kapal masuk adalah dari Laut Oman ke utara Pulau Larak. Sementara itu, untuk jalur keluar dari kawasan Teluk, kapal diarahkan melewati selatan Pulau Larak sebelum melanjutkan perjalanan ke Laut Oman.
Dari sisi AS, juru bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, pada hari Rabu membantah informasi yang menyatakan bahwa Iran telah menutup Selat Hormuz. Pernyataan tersebut muncul hanya beberapa jam setelah dimulainya gencatan senjata yang masih sangat rentan antara kedua negara. Leavitt menegaskan bahwa setiap upaya Iran untuk menghalangi lalu lintas laut akan dianggap sebagai tindakan yang tidak dapat diterima.
Sebelum pernyataan dari Gedung Putih tersebut, kantor berita Fars yang terkait dengan IRGC melaporkan bahwa Iran telah kembali menutup Selat Hormuz sebagai respons atas serangan yang dilakukan Israel terhadap kelompok Hezbollah. Hal ini menunjukkan dinamika yang rumit dalam hubungan antara Iran dan negara-negara lain di kawasan tersebut.
Beberapa sumber di industri pelayaran melaporkan bahwa kapal tanker yang berusaha melintas di Selat Hormuz menerima ancaman dari Angkatan Laut Iran. Ancaman ini mencakup pernyataan bahwa setiap kapal yang mencoba memasuki perairan Iran akan menjadi target dan akan dihancurkan.
“Setiap kapal yang memasuki perairan kami akan dianggap sebagai target dan akan dihancurkan,” demikian bunyi pesan yang diterima oleh sejumlah kapal tanker yang berlayar di sekitar wilayah tersebut.
Sementara itu, mengutip dari AP News, Komandan Kedirgantaraan IRGC, Jenderal Seyed Majid Mousavi, menegaskan bahwa serangan terhadap Lebanon dianggap setara dengan serangan terhadap Iran. Ia juga menambahkan bahwa pihaknya sedang mempersiapkan balasan yang besar, meskipun ia belum memberikan rincian lebih lanjut mengenai rencana tersebut.
Di pihak Israel, Kepala Staf Militer Letjen Eyal Zamir menyatakan bahwa negaranya akan terus mencari setiap kesempatan untuk menyerang kelompok Hizbullah. Militer Israel bahkan mengklaim telah melancarkan serangan terhadap lebih dari 100 target di Lebanon dalam waktu singkat, yang disebut sebagai serangan terbesar sejak 1 Maret lalu.
➡️ Baca Juga: Mengapa Anda Harus Menghargai Waktu Sendiri
➡️ Baca Juga: Menjaga Kesehatan Ginjal dengan Mengurangi Konsumsi Makanan Olahan Secara Efektif




