6 Keutamaan Halal Bihalal yang Lebih dari Sekadar Tradisi Lebaran

Tradisi halal bihalal, yang sering diasosiasikan dengan perayaan Lebaran, memiliki makna yang jauh lebih mendalam daripada sekadar berjabat tangan dan meminta maaf. Para ulama memandang halal bihalal sebagai sarana yang penting untuk mencapai ampunan dari Allah SWT dan menyelesaikan berbagai persoalan sosial yang mungkin terjadi di antara manusia.
KH Ahmad Chuvav Ibriy, seorang pengasuh Pondok Pesantren Al-Amin di Mojowuku Kedamean Gresi dan juga Penasehat LBM PCNU Kabupaten Gresik di Jawa Timur, menjelaskan bahwa halal bihalal merupakan hasil ijtihad para ulama di Nusantara yang mengandung nilai-nilai teologis dan sosial yang kuat.
Namun, beliau menyayangkan bahwa dalam praktiknya, halal bihalal seringkali berubah menjadi sekadar formalitas tahunan, tanpa menyelesaikan konflik yang ada. Ia menekankan bahwa esensi sejati dari halal bihalal adalah menyelesaikan masalah secara menyeluruh, bukan hanya menutupinya.
“Seringkali kita mendengar ucapan ‘mohon maaf lahir batin’, tetapi masalah yang sama terus berulang. Rasa dendam tidak benar-benar hilang,” ungkapnya.
Mengacu pada informasi yang dirangkum dari NU Online, KH Ahmad Chuvav Ibriy menjelaskan beberapa keutamaan halal bihalal yang penting untuk diketahui. Berikut adalah penjelasannya.
Jalan Bersegera Menuju Ampunan Allah
Halal bihalal memiliki akar yang kuat dalam ajaran Al-Qur’an yang mendorong kita untuk segera meraih ampunan Allah. Hal ini dapat dilihat dalam QS. Ali ‘Imran ayat 133-134 yang berbunyi:
“Dan bersegeralah kamu menuju ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang bertakwa; yaitu mereka yang berinfak di waktu lapang maupun sempit, menahan amarah, memaafkan manusia, dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat ihsan.”
KH Ahmad Chuvav menekankan bahwa istilah wa sāri‘ū dalam ayat tersebut menunjukkan bahwa pencarian ampunan Allah harus dilakukan dengan kesungguhan, termasuk dalam memperbaiki hubungan dengan sesama.
Menyelesaikan Dosa Sosial
Dalam perspektif Islam, dosa tidak hanya berkaitan dengan hubungan kita dengan Allah (ḥaqq Allāh), tetapi juga dengan sesama manusia (ḥaqq al-Ādamī). Sementara dosa kepada Allah dapat diampuni melalui taubat, dosa terhadap manusia harus diselesaikan secara langsung. “Dosa kepada sesama manusia menuntut penyelesaian yang nyata—apakah itu dengan mengembalikan hak yang hilang atau meminta maaf hingga mendapatkan kerelaan,” jelasnya.
Menghindari ‘Kebangkrutan’ di Akhirat
Rasulullah SAW pernah menggambarkan sosok yang bangkrut (muflis), yaitu mereka yang datang dengan banyak pahala, tetapi pahala tersebut hilang akibat tindakan zalim terhadap orang lain. KH Ahmad Chuvav menekankan bahwa halal bihalal merupakan momen yang sangat penting untuk “melunasi utang sosial” sebelum terlambat, sehingga kita tidak mengalami kebangkrutan di akhirat.
Halal bihalal bukan hanya sekadar tradisi, melainkan juga sebuah ajakan untuk refleksi dan perbaikan hubungan antarmanusia. Ini adalah saat yang tepat untuk membersihkan hati dan menyelesaikan persoalan yang ada, agar tidak ada beban yang tertinggal.
Dalam konteks sosial, halal bihalal juga mengajak kita untuk berkontribusi dalam menciptakan lingkungan yang lebih harmonis. Ketika kita saling memaafkan, maka akan tercipta hubungan yang lebih baik dan saling mendukung dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan memahami keutamaan halal bihalal, kita dapat mengoptimalkan momen ini tidak hanya untuk mempererat tali silaturahmi, tetapi juga untuk memperbaiki diri dan hubungan kita dengan orang lain. Setiap ucapan maaf yang tulus, jika disertai dengan tindakan nyata, akan membawa dampak positif dalam kehidupan sosial kita.
Oleh karena itu, mari kita gunakan kesempatan halal bihalal ini untuk merenungkan hubungan kita dengan sesama, mencari solusi dari setiap permasalahan yang ada, dan berusaha menjadi pribadi yang lebih baik. Ini adalah saat yang tepat untuk melepaskan beban emosional dan menjalin kembali hubungan yang mungkin telah renggang.
Halal bihalal lebih dari sekadar tradisi tahunan; ini adalah panggilan untuk memperbaiki diri dan memperkuat ikatan sosial. Dengan menginternalisasi makna sebenarnya dari halal bihalal, kita tidak hanya menjadikannya sebagai ritual, tetapi juga sebagai langkah konkret menuju perdamaian dan saling pengertian antar sesama.
➡️ Baca Juga: Leapmotor Masuk Indonesia, Simak Daftar Mobil Listrik yang Tersedia di Sini
➡️ Baca Juga: Persib Pastikan Puncak Klasemen Lebaran, Simak Pernyataan Bojan Hodak



