depo 10k depo 10k
berita

Petugas Penangkap Ikan Sapu-sapu Dapat Hadiah Uang Rp 25 Ribu per Kg dan Tiket Ancol Gratis

Pemerintah Kota Jakarta Barat memberikan insentif berupa uang tunai sebesar Rp25 ribu per kilogram (kg) serta akses gratis ke Ancol bagi petugas yang berhasil menangkap ikan sapu-sapu. Langkah ini merupakan bagian dari upaya untuk mengendalikan populasi ikan yang dianggap merugikan ekosistem dan infrastruktur.

Wali Kota Jakarta Barat, Iin Mutmainnah, menyatakan, “Kami memberikan apresiasi kepada kelompok yang berhasil menangkap ikan, dengan imbalan Rp25 ribu per kilogram. Ini merupakan bentuk penghargaan yang bisa dinikmati bersama, dan kami juga akan mengajak mereka berlibur ke Ancol.” Pernyataan ini disampaikan kepada ANTARA di Jakarta pada hari Jumat.

Dalam waktu kurang lebih satu jam, lebih dari 20 kg ikan sapu-sapu berhasil ditangkap. Iin menjelaskan, “Sejauh ini kami telah mengumpulkan sekitar 20 kg ikan, tetapi ini baru permulaan. Kami akan terus melakukan pencarian di sepanjang kali ini, dan kami berharap sebelum waktu sholat Jumat, penangkapan ini bisa kami selesaikan. Saya yakin jika kami perluas jangkauan, hasilnya akan lebih banyak.”

Setelah ikan sapu-sapu ditangkap, Iin menegaskan bahwa ikan-ikan tersebut tidak akan dikonsumsi oleh masyarakat, melainkan akan langsung dikubur di Sentra Flora Semanan untuk mencegah penyalahgunaan.

“Jadi, ikannya akan dikubur,” tambah Iin.

Sekretaris Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Perikanan (KPKP) Jakarta, Mujiati, mengungkapkan bahwa ikan sapu-sapu hidup di area berlumpur dan dapat merusak struktur turap kali jika populasinya tidak terkontrol.

“Jika jumlah ikan sapu-sapu meningkat, kami khawatir mereka dapat merusak bagian bawah turap karena mereka cenderung bersembunyi di lumpur,” jelas Mujiati.

Di sisi lain, Aas Asih, Kepala Seksi Perikanan Suku Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) Jakarta Barat, menjelaskan bahwa ikan sapu-sapu bersifat invasif dan dapat mengganggu keberadaan ikan lokal di Kali Taman Semanan Indah.

“Ikan ini berkembang dengan sangat cepat, sehingga dapat meminggirkan ikan-ikan lokal,” ungkap Aas.

Lebih lanjut, Aas menambahkan bahwa ikan ini juga dapat menciptakan lubang di dinding turap, yang berpotensi membuat struktur tersebut cepat rapuh.

“Sifat ikan sapu-sapu adalah melubangi dinding untuk berliang, yang dapat merusak turap saluran di wilayah Jakarta,” terangnya.

Aas juga menyoroti bahwa ikan sapu-sapu sering kali diburu oleh oknum untuk dijadikan bahan makanan olahan seperti siomay. Namun, ada risiko kesehatan yang signifikan, karena ikan ini dapat mengandung bakteri E. coli atau Salmonella, dan bahkan logam berat seperti timbal.

➡️ Baca Juga: Cara Menonaktifkan Fitur Tidak Terpakai di Android untuk Meningkatkan Performa Perangkat

➡️ Baca Juga: Penerapan Sistem MLFF Dalam Uji Kelayakan: Nasibnya Masih Menggantung di Tangan Pemerintah

Related Articles

Back to top button