Karhutla di Jambi Telah Melanda Luas 33 Ribu Hektare, Apa Dampaknya?

Berdasarkan analisis terbaru dari unit Sistem Informasi Geografis (GIS) yang dikelola oleh Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) Warsi, telah terjadi kebakaran lahan yang sangat luas di Jambi, mencakup sekitar 33 ribu hektare.
Kebakaran yang paling memprihatinkan dan menjadi sorotan adalah yang terjadi di kawasan Taman Nasional Berbak dan Sembilang (TNBS), yang melibatkan ekosistem gambut yang rentan.
“Kebakaran di lahan gambut jauh lebih sulit untuk dikendalikan dan memerlukan pendekatan yang berbeda,” ungkap Rudi Syaf, Manajer Komunikasi KKI Warsi, dalam keterangannya di Jambi pada hari Jumat, 25 September 2026.
Rudi menjelaskan bahwa kebakaran di kawasan konservasi ini dimulai dari area Sembilang, yang terletak di Provinsi Sumatera Selatan. Kebakaran tersebut kemudian menyebar ke zona rimba dan saat ini telah mencapai bagian inti kawasan yang berada di Provinsi Jambi.
Kondisi ini menyoroti bagaimana api di lanskap gambut dapat melampaui batas administrasi dan pengelolaan kawasan, memperlihatkan tantangan yang dihadapi dalam pengendalian kebakaran.
Saat gambut berada dalam kondisi kering, api dapat menjalar di bawah permukaan tanah dan muncul kembali di lokasi yang cukup jauh dari titik awal kebakaran, membuatnya semakin sulit untuk ditangani.
Dari hasil analisis, terungkap bahwa kebakaran ini bahkan telah melompati badan sungai. Fenomena ini patut dicermati karena sungai dan badan air berperan penting dalam mempertahankan kelembapan di lanskap gambut.
Ketika kondisi lingkungan sangat kering, kemampuan gambut untuk menyimpan air menjadi berkurang. Cuaca kering yang disebabkan oleh fenomena El Nino juga memperburuk kerentanan ekosistem ini.
Namun, masalah tidak hanya berasal dari faktor iklim. Aktivitas manusia di sekitar kawasan juga harus diperhatikan, terutama tindakan yang dilakukan tanpa memahami karakter dan tingkat kerentanan ekosistem gambut.
“Dalam situasi seperti ini, pendekatan yang diambil tidak bisa hanya sebatas memadamkan api. Kita juga perlu meningkatkan pemahaman masyarakat tentang karakteristik gambut, cara mengelola lahan tanpa api, menjaga sumber air, dan mengenali tanda-tanda awal kebakaran,” tambahnya.
Selain di TNBS, Rudi juga melaporkan bahwa kebakaran telah terdeteksi di bagian selatan Taman Nasional Bukit Tigapuluh, khususnya di area hutan produksi dan hutan lindung.
Analisis spasial KKI Warsi menunjukkan bahwa hampir separuh dari area yang terbakar teridentifikasi berada di dalam kawasan hutan produksi dan hutan produksi terbatas, menambah kompleksitas situasi yang dihadapi.
➡️ Baca Juga: Anggaran Motor Kepala SPPG Purbaya Akan Masuk di 2025, Bukan Tahun Ini
➡️ Baca Juga: Reaksi Warga Indonesia Terhadap Kegagalan Timnas Kalahkan Malaysia dalam Pertandingan




