Karhutla Barito Kuala Mengancam, Dekat Jalan Utama Kalsel dan Udara Masuk Zona Berbahaya

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali melanda Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan. Pada malam Minggu, 18 Oktober 2026, lebih dari tiga hektare lahan terbakar di area Jalan HM Yunus, Sungai Rasau, Kecamatan Cerbon.
Kebakaran tersebut terjadi sekitar 100 hingga 200 meter dari jalan utama yang menghubungkan Banjarmasin dengan wilayah Banua Anam di bagian utara Kalimantan Selatan.
Meskipun api belum menyentuh tepi jalan, kebakaran ini menimbulkan risiko serius bagi pemukiman warga yang berada di sepanjang jalur tersebut. Para petugas telah mulai berdatangan untuk berjaga-jaga dan mencegah penyebaran api yang dapat mengancam rumah-rumah warga serta kabel listrik di sepanjang jalan.
Nazar, seorang warga setempat berusia 23 tahun, menyatakan bahwa kebakaran mulai terlihat sejak Maghrib dan kembali menyala setelah waktu Isya.
“Ini adalah kali pertama kebakaran terjadi di lokasi ini, yang berdekatan dengan jalan. Banyak warga yang langsung berjaga,” ujarnya saat diwawancarai pada Senin, 19 Oktober 2026.
Kebakaran ini juga menarik perhatian para pengendara yang melintas. Warga sekitar bertindak cepat dengan berjaga-jaga untuk mencegah api menjalar lebih jauh ke rumah mereka.
Kedekatan lokasi kebakaran dengan permukiman dan jalur transportasi utama yang menghubungkan Banjarmasin dengan kabupaten-kabupaten lain di Banua Anam menjadikan upaya pencegahan penyebaran api sangat penting bagi petugas di lapangan.
Ancaman yang ditimbulkan oleh karhutla di Barito Kuala tidak hanya terkait dengan meluasnya area yang terbakar, tetapi juga berdampak pada kualitas udara yang semakin memburuk akibat kabut asap.
Dalam beberapa hari terakhir, kualitas udara di Kabupaten Barito Kuala berdasarkan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) berada dalam kategori berbahaya. Data pemantauan dari Kementerian Lingkungan Hidup menunjukkan bahwa konsentrasi partikel halus PM2.5 telah mencapai level yang sangat tinggi.
Pada malam Minggu, konsentrasi PM2.5 di Barito Kuala tercatat mencapai 307 mikrogram per meter kubik, angka ini jauh melebihi batas aman yang seharusnya berada dalam rentang 0 hingga 15,5 mikrogram per meter kubik.
Kondisi ini menjadi perhatian serius di tengah meningkatnya insiden karhutla di Kalimantan Selatan.
Menurut data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalimantan Selatan per tanggal 14 Oktober 2026, Kabupaten Barito Kuala telah mencatat sebanyak 467 kasus karhutla dengan total luas lahan yang terdampak mencapai 3.276,82 hektare.
➡️ Baca Juga: Ganjil Genap Jakarta Berubah, Ketahui Aturan Baru untuk Pengendara
➡️ Baca Juga: Pemprov DKI Usulkan Rp250 Juta di Raperda APBD-P 2026 untuk Penelitian Ikan Sapu-sapu




