Kepala BGN Menegaskan: MBG Tidak Layak Dikonsumsi, Kembalikan Sebagai Lauk Pilihan

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Sudaryono, mengingatkan kepada masyarakat yang memperoleh Makan Bergizi Gratis (MBG) agar tidak mengonsumsi makanan yang ditemukan dalam kondisi tidak layak. Peringatan ini penting untuk menjaga kesehatan dan keamanan pangan.
Sudaryono, yang akrab disapa Mas Dar, menegaskan bahwa setiap makanan MBG yang terlihat tidak layak harus segera dikembalikan kepada Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) untuk dilakukan pemeriksaan dan investigasi lebih lanjut. Tindakan ini diperlukan untuk memastikan bahwa makanan yang diberikan kepada masyarakat memenuhi standar kesehatan yang ditetapkan.
Keamanan pangan adalah salah satu aspek utama yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan Program MBG. Pengawasan tidak hanya dilakukan saat makanan disiapkan, tetapi juga saat makanan tiba di lembaga pendidikan dan sebelum dikonsumsi oleh para peserta didik. Hal ini bertujuan untuk mencegah risiko kesehatan yang mungkin timbul akibat konsumsi makanan yang tidak memenuhi syarat.
“Jika ditemukan bahwa makanan tidak layak, seperti lauk, sayur, buah, atau nasi, misalnya hanya sayur yang terdeteksi berbau tidak enak, maka semua komponen makanan tersebut harus dianggap tidak layak untuk dikonsumsi,” ujar Sudaryono dalam sebuah webinar mengenai Literasi Gizi dan Keamanan Pangan yang diadakan di Jakarta.
Ia menekankan bahwa makanan MBG yang menunjukkan tanda-tanda ketidaklayakan tidak boleh dikonsumsi, meskipun sebagian dari komponennya tampak dalam kondisi baik. Hal ini penting untuk menjaga keselamatan semua yang menerima makanan tersebut.
Sebagai contoh, jika satu paket MBG terdiri dari nasi, lauk, sayur, dan buah, dan salah satu komponen, seperti sayur, terindikasi berbau tidak normal, maka seluruh paket tersebut harus dianggap tidak layak untuk dikonsumsi. Ini adalah langkah preventif untuk melindungi kesehatan anak-anak yang mengonsumsinya.
Dengan cara ini, penerima MBG tidak diperbolehkan hanya memilih bagian makanan yang masih tampak aman, sementara meninggalkan bagian yang bermasalah. Semua komponen makanan dalam paket harus diperhitungkan secara keseluruhan.
Sudaryono meminta agar makanan MBG yang tidak layak segera dikembalikan kepada SPPG. Langkah ini diperlukan agar makanan tersebut bisa diperiksa lebih lanjut dan untuk menelusuri penyebab dari kondisi ketidaklayakan tersebut.
“Jika ditemukan makanan yang tidak layak, maka itu adalah kewajiban untuk tidak mengonsumsinya dan harus dikembalikan ke SPPG. Kami akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut,” tegasnya.
Dalam implementasi Program MBG di lembaga pendidikan, para guru memiliki peran krusial dalam memastikan bahwa makanan yang diterima oleh peserta didik berada dalam kondisi aman sebelum mereka mengonsumsinya. Tanggung jawab ini sangat penting demi kesehatan anak-anak.
Badan Gizi Nasional mendorong para guru untuk melakukan pemeriksaan makanan secara organoleptik. Pemeriksaan ini melibatkan pengamatan terhadap kondisi fisik makanan sebelum disajikan kepada peserta didik, untuk memastikan bahwa makanan tersebut layak dan aman untuk dikonsumsi.
Dengan langkah-langkah tersebut, diharapkan program MBG dapat berjalan dengan baik dan memberikan manfaat maksimal bagi penerima. Keamanan pangan menjadi tanggung jawab bersama, dan semua pihak diharapkan berperan aktif dalam menjaga standar kualitas makanan yang diterima oleh anak-anak.
➡️ Baca Juga: Rupiah Melemah Akibat Meningkatnya Beban Utang dan Penilaian Kinerja APBN yang Buruk
➡️ Baca Juga: Strategi Sukses: Ide Bisnis Rumahan Berdasarkan Konsep Satu Masalah Satu Solusi




