Pentingnya Kepemimpinan yang Menjunjung Adab dalam Khutbah Jumat

Jakarta – Dalam mencapai peradaban yang tinggi serta kesejahteraan masyarakat, kepemimpinan yang beradab menjadi faktor kunci. Terutama dalam konteks negara demokrasi, di mana pemimpin diharuskan untuk bertanggung jawab dan dipilih secara langsung oleh rakyat setiap lima tahun. Dalam khutbah Jumat kali ini, akan dibahas mengenai pentingnya memiliki pemimpin yang tidak hanya berintegritas, tetapi juga berakhlak mulia dalam membangun bangsa.
Berikut adalah khutbah Jumat lengkap yang menekankan pentingnya pemimpin yang berakhlak mulia.
Kemajuan suatu masyarakat dapat diukur dari kualitas pemimpinnya. Hubungan antara kemajuan bangsa dan akhlak pemimpin bagaikan dua sisi dari koin yang sama. Ini berarti, untuk menciptakan masyarakat yang beradab dan memiliki moralitas yang tinggi, tidak ada pilihan lain kecuali harus ada pemimpin yang memiliki akhlak yang baik. Penting untuk dipahami bahwa akhlak mulia berasal dari keimanan yang benar kepada Allah Swt.
Salah satu contoh yang patut dicontoh dalam sejarah Islam mengenai akhlak seorang pemimpin adalah pidato pertama dari Khalifah Abu Bakar Ash Shiddiq. Ketika beliau memulai tugas kepemimpinannya, beliau mengemukakan tujuh sifat akhlak yang seharusnya dimiliki oleh seorang pemimpin.
اَيُّهَاالنَّاسُ قَدْ وُلِّيْتُ عَلَيْكُمْ وَلَسْتُ بِخَيْرِكُمْ
Wahai sekalian manusia, kalian telah sepakat memilihku sebagai pemimpin (khalifah) di antara kalian. Aku bukanlah yang terbaik di antara kalian.
Dalam pidatonya, Khalifah Abu Bakar menekankan bahwa sikap pertama yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin adalah tawadhu, yaitu sikap rendah hati, tidak merasa sebagai orang yang paling baik, apalagi menganggap dirinya satu-satunya yang pantas.
Pentingnya sikap tawadhu bagi seorang pemimpin sangatlah besar. Seorang pemimpin yang rendah hati akan terbuka terhadap nasihat, masukan, dan kritik dari orang lain. Sebaliknya, jika pemimpin bersikap sombong, maka ia akan menolak bahkan saran yang konstruktif sekalipun.
Sejarah Fir’aun dapat menjadi pelajaran berharga tentang bagaimana seorang raja yang sangat berkuasa dapat digulingkan dengan penuh kehinaan melalui dakwah yang dilakukan oleh Nabi Musa dan Harun as. Ini menunjukkan bahwa kekuasaan tanpa akhlak yang baik tidak akan bertahan lama.
Sikap tawadhu justru akan mengangkat derajat seseorang. Rasulullah saw bersabda:
التَّوَاضَعُ لاَ يَزِيْدُ إِلاَّ رِفْعَةً فَتَوَاضَعُوْا يَرْفَعْكُمُ اللهُ
Tawadhu tidak akan menambah apa pun bagi seorang hamba kecuali ketinggian derajatnya. Oleh karena itu, bersikaplah tawadhu, niscaya Allah akan mengangkat derajatmu (HR. Dailam).
➡️ Baca Juga: Menyusun Daftar Buku yang Wajib Dibaca di Tahun Ini
➡️ Baca Juga: Rahasia Sukses di Dunia Musik yang Jarang Diketahui




